Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

6/27/2010

Hujan; Sahabat Mantan Kekasih

AKU menemukan setitik harapan ketika senja dibalut rinai. Ruang hampa seakan terisi saat kabar menyeringai tentang perasaan awal dari beradu pandang dan semua tentang hidup ketika jalan takdir mempertemukan kita kala itu. Batas sepi telah terkotak dengan tapal kehidupan masa depan membentang. Aku hidup, kembali mulai mengeja satu per satu mimpi yang sempat terlewati karena galau. Ya, karena kau ada di sini. Bersamaku, menghitung rintik hujan setiap senja tiba.
Kita hidup dalam satu musim, hujan. Mungkin dengan kesamaan itu, kita lebih mengerti atas sikap yang diperagakan. Layaknya hidup, sandiwara memang. Aku yakin kita memiliki peran berbeda, tapi saling melengkapi. Jika kemudian satu diantara tulang rusukku itu adalah kamu, keikhlasan sebenar sudah terpatri ketika detik pertama aku melihat keriting rambutmu.
Tulus, selayaknya setiap kata yang kau ungkapkan menjelang keberangkatanmu. Beberapa tanggal kemudian terlewati, hingga kemudian rindu membuncah. Meski asing, aku tak merasa terasing. Karena ternyata rasa itu juga kau rasakan seiring gelap kemudian berganti terang, dan begitu seterusnya.
Inilah aku. Aku yang mencoba untuk yakin bahwa yang mencari akan menemukan, dan yang pergi akan kembali. Membenarkan setiap sisi kesalahan dan mencoba untuk percaya kepergianmu memang akan kembali untukku. Sementara aku telah menemukanmu diantara pekat, pahit dan keterasingan masa lalu.
Hadirmu menyejukkan hati. Begitu selalu ku enduskan pada setiap nafas, tepat di sisi telinga kananmu. Tentu kau masih ingat bukan? Hari-hari itu memang indah.
"Jika kemudian kau adalah pendampingku, ku harap hatimu tetap terjaga. Dan biarkan selamanya tangan ini selalu ada di pundakmu," begitu katamu. Itulah alasan lain yang kemudian membuat aku percaya, pertemuan kita adalah awal dari perjuangan hidup, selain karena keriting rambutmu.

***

Musim kini berganti. Kepergianmu juga telah membuat perbedaan masa dan musim yang selama ini kita jalani bersama. Tetap hujan, namun kali ini petir menyambar. Suara teduh kemudian berganti gaduh dan kita tak lagi bisa saling melengkapi. Mungkin aku telah keliru meluruskan tulang rusuk itu. Keliru, dan kesalahanpun sampai saat ini tak penting untuk diperjelas. Karena memang pengadilan itu ternyata tak ada. Tentu jika ada, aku akan mencari advokat kondang untuk memperjuangkan perasaanku kala itu. Tapi gelap tetaplah gelap, begitu juga dengan terang. Karena aku yakin, duka kita sekalipun tak akan menghalangi terbitnya matahari esok. Bagiku, bersamamu hanya sekeping perjalanan hidup yang masih terus berlalu dan tak seorang pun tahu kemana, dan apa muara sebenarnya.
Rien, kuakhiri kebersamaan denganmu. Ternyata kita hanya berada pada satu garis dalam semusim. Semoga kau bisa menjalani setiap konsekuensi pilihanmu.

***

Rumit memang untuk menyatukan perbedaan. Dengan alasan itu pula terkadang sendiri itu nyaman, meski harus diakui kadang sepi menyapa saat sela waktu jenuh. Aku tetap survive. Kembali merangkai benang dan bercinta dengan logika. Bukankah indah akan tiba pada saatnya? Pencarian kadang memang butuh waktu dan melelahkan.
Adalah sebuah pertemuan tak terduga. Aku yakin ini juga merupakan sebentuk kepingan hidup yang entah akan berujung apa. Tentu jika dia ibarat pohon randu, maka kapuk akan bertebaran ketika kulitnya mulai layu dan tak mampu menahan desakan keinginan untuk terbang bersama angin.
"Ya, masih ingat. Dulu, Rien banyak bercerita tentangmu," katanya datar, gadis berkerudung hitam itu kemudian melemparkan senyum.
"Dulu, mungkin iya. Kini aku hanya mampu menghitung rintik hujan sendiri, tentu tak banyak yang kudapat. Bagaimana dengan arjunamu, kabarnya dia baru saja lulus perwira?" aku menyela membalas senyum sedikit geli dengan kata-kataku sendiri.
"Hmm.. Sudahlah, ternyata waktu hujan memang tak selalu sama. Logika kita terkadang tak sama dengan apa yang dipikirkan orang lain. Enam bulan lalu, dia memilih untuk pergi dari kehidupanku," dia mencoba tetap tampak tegar.
Aku merasakan ada kesedihan tersendiri ketika lirihmu seakan putus asa. Embun, begitu kau akrab kusapa. Aku mengenalmu justru dari Rien, sebuah nama tentang masa lalu yang mengajarkan aku tentang perjuangan dan keinginan yang tak dapat diraih. Embun, perempuan berkerudung dengan tutur kata lembut menyejukkan.
Rien dan Embun memang sempat akrab. Mereka satu kampus dan sering menghabiskan waktu bersama. Tapi kemudian waktu menjawab keakraban mereka karena Rien memilih untuk menikah, setelah beberapa tahun melepas cerita denganku. Selanjutnya, mereka kemudian disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Begitu juga denganku.
Embun masih berdiri dibawah teduhnya balkon ruko dan mencoba untuk tampak akrab denganku setelah sekian tahun kami dipisahkan waktu. Gerimis kala itu. Di sudut kiri kami, tampak ibu-ibu penjual gorengan dengan seorang anak gadisnya yang mencoba melayani setiap pembeli berpayung.
Hening, hanya titik gerimis yang kemudian berubah menjadi butiran hujan diiringi riuh lalu-lalang kendaraan. Sementara itu, aku mencoba untuk melepaskan kepenatannya atas masa lalu dengan menggiring langkahnya menuju pondok gorengan pada pojok terminal. Kami kemudian larut dalam cerita. Tawa dan keakraban pun mulai tampak ketika tanpa ragu aku mencoba menggodanya sembari memanggil dengan sapaan Zaskia.
"Mirip sih. Boleh ya, mulai sekarang aku panggil kamu Zaskia, tapi tanpa Adya Mecca, gimana?" kelakarku sembari tertawa lebar.
"Enak aja. Potong tumpeng tau, ganti nama orang sembarangan," Embun membalas tawaku dengan senyum terindah.
Meski terdengar keberatan, tapi aku yakin sebenarnya Embun senang ketika aku panggil Zaskia. Jadilah mulai saat itu panggilan Zaskia melekat padanya, dan itu hanya aku yang memanggil.

***

Tak sedikit terlintas. Ternyata pertemuanku dengan Zaskia di pondok gorengan itu adalah sebuah awal dan akhir pertemuan di kota ini. Sebab beberapa bulan kemudian dia harus pulang ke kotanya setelah rampung menyelesaikan kuliah dan resmi menyandang gelar sarjana. Dia tak sempat berpamitan langsung karena mengaku buru-buru dan dijemput keluarga. Aku juga mengetahuinya setelah dia mengirimkan pesan ke handphone dan mengatakan, saat itu dia sudah berada di kota kelahirannya.
Bagiku tak masalah. Karena komunikasi selama ini sudah cukup membuktikan ada perasaan lain, setelah pertemuan itu. Meski jauh, kami tetap saling memberi kabar diantara kesibukan.
Berat sebenarnya ingin kuungkapkan kalau aku menaruh simpati pada Zaskia. Hanya dorongan keinginan dan harapan cukup kuat seakan memaksa, hingga kemudian aku beranikan diri tuk menyatakan apa yang sebenarnya selama ini aku pendam. Aku jatuh hati pada Embun, ya Zaskiaku.
"Aku bukan sosok Rien, dan aku tak jamin bisa menemanimu menghitung rintik hujan seperti dia," ujar Zaskia di ujung telepon.
"Tapi setidaknya kau hadir pada waktu tepat. Saat keterasingan dan bara api itu mulai padam karena hujan," aku kembali meyakinkan.
"Tapi semuanya sudah terlambat. Rien telah mengisi hatimu lebih dulu, dan aku bukan dia. Kamu harus tahu itu."
"Lalu apakah sesuatu yang terlambat tak perlu dimulai? Semua telah ku perjelas, telah rampung dalam setiap kata. Mengalir dalam mata hati yang berbuah ketulusan. Masihkah kau ragu Zaskiaku?."
Hanya diam, dan aku yakin diam ternyata bukanlah jawaban. Karena memang dia masih benar-benar ragu.
"Jarak yang tak mungkin membuat kita bersama," katanya kemudian.
"Bukankah niat adalah awal? Jika niat sudah terpatri, ku yakin semua akan ada cara," ujarku tak mau kalah.
Aku masih mencoba untuk meyakinkan Zaskia, bahkan berbulan-bulan itu terjadi. Hasrat ingin melukiskan rindu tak dapat kucegah. Namun bagaimana bisa kulukiskan rindu jika kanvas di hatinya masih enggan dia buka. Bagaimana pula aku akan datang menjemputnya, jika sedetik saja berlalu dia kembali ragu.
Aku mengenalnya lewat syair, kisah raut wajah segala harap tentang hidup dan mati. Aku mengaguminya karena pikiran dan kegigihan, memberi suatu pelajaran tentang perjuangan. Kini, esok dan akan datang. Meski jauh dan mungkin bukan untukku, semua telah terpatri indah. Hanya hayat dan semangatnya yang mampu membangunkan dari lelap galau.
Desir angin pagi itu adalah getah musim di akhir Juni. Meleleh pada akar masa lalu dan bersarang muasal pada nista terindah. Setidaknya, dengan mengenal Zaskia aku telah melangkah dan meninggalkan masa lalu. Meski ku yakin tak selamanya jalan itu lurus. Kupasrahkan segala asa di setiap relung hati, ku tumbuhkan suburnya rindu dan kupinang dia yang ku datangi pada setiap helai nafas. Bercerita tentang keindahan, hingga senja perlahan lindap dan hujan menyegarkan. Karena aku yakin, ketika hujan ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu.

***

Hari ini, hujan kembali menggelitik gelisah. Menderu seperti ombak menghempas pasir putih di pantai perawan. Sementara aku terdiam di salah satu bangku bis tua yang akan menghantarkanku ke kotamu, Zaskiaku. Haru, penuh harap. Tak kuhiraukan sekelebatan pecahan-pecahan air yang menyentuh dinding kaca bis yang seakan merembes mengenai wajah. Tubuhku terpaku pada jendela serambi mobil. Butir-butir air itu terus turun, musim hujan kali ini serasa menghentakkan. Menekan batin meronta, mencoba merengkuh sang perempuan yang mulai getir karena dingin.
Kaukah perempuan itu Zaskiaku? Hadir di relung hati, menyibak sepi dan mencoba membuka mimpi. Hidup di tengah-tengah keramaian, namun jiwamu tetap damai. Menawarkan relung demi relung harap dan berkomitmen melihat keindahan serta hadapi duka bersama. Semoga saja.
Apapun keputusanmu saat aku tiba di halaman, setidaknya aku sudah siap dan yakin karena Tuhan selalu punya cara bagaimana pertemuan terjadi, begitupun Dia juga punya jalan perpisahan ketika harus terjadi. (**)

Arga Makmur, 02.51 WIB, 24 Juni 2010

1/24/2010

Temaram Bulan Cassanova

*Rama Diandri

"Kau haus?" tawarku...
Seketika kau langsung ambilkan seloki black label untuk sedikit membasahi kerongkongan. Begitulah caramu melayaniku. Tak haus pun, kau selalu menawarkan kesegaran. Begitu juga dengan kehangatan saat dingin malam mulai menusuk pori.
"Abisin minumnya ya Bang," ujarmu kemudian menawarkan dan langsung mengambil gelas penuh buih, bak debur ombak di pantai perawan. Sesekali kepalamu kau sandarkan tepat di bahuku. Kau begitu manja, tak juga hilang ku merinding ketika kau mulai berbisik mesra sembari menghembuskan nafas tepat di telinga. hmm.. Semua terasa indah.
Basa-basimu cukup klasik. Kau menanyakan nama, sesaat kemudian aku pun balik tanya. Namun namamu tak begitu jelas di telinga. Bagiku, bukanlah hal penting yang mesti kuingat hingga kemudian berlabuh pada titik jenuh. Yang pasti, malam ini kau milikku, begitu juga sebaliknya.
DJ mulai memainkan musik, menari, menata gerak dan berusaha tak kaku. Kau menggodaku, lagi-lagi dengan ajakan tangan nakalmu. Awalnya aku tak tergoda, tapi kulihat kau begitu mesra. Naluriku bangkit hingga kemudian membiarkan tangan dan kaki bergerak mengiringi dentuman bass yang semakin asyik. Mari kawan, alunkan nada, goyangkan kaki dan mainkan tangan terampil... hehe.. Semakin asyik, godekan kepalamu diiringi alkohol. Aku tersenyum, mencoba menahan geli, tapi tetap menikmati. Berkali-kali hal itu kita lakukan. Naik turun lantai, hingga kemudian keringat bercucuran.
Kau tampak letih, terduduk lesu di kursi abu. Ketika aku menghampiri, lagi-lagi kau menunjukkan sikap manja dan menyandarkan kepala tepat di bahuku. Kali ini semakin dekat, kepalamu mulai menyentuh dada. Sesekali tanganmu kau mainkan, hanya sekedar untuk menggenggam jemariku yang mulai basah. "Bang, entar kalau ke sini lagi biar aku aja yang temani ya," lirihmu seiring manja.
Aku mencoba mengiyakan, dengan penuh harap kau pun kemudian tersenyum lega. Jujur, saat itu aku mencoba untuk lebih menggali apa sebenarnya yang membuatmu jatuh dalam pelukan laki-laki seperti aku, dan mungkin aku aku yang lain. Namun ternyata kau cukup jujur, tanpa ditanya kau pun menjelaskan kalau menemani laki-laki sepertiku kau hanya diupah sebesar Rp 40 ribu rupiah. "Untung kalau ada yang ngasih sebagai angpao Bang. Kalau tidak, hanya itu yang aku dapatkan bekerja semalaman," ujarmu lagi. Aku semakin terenyuh, apalagi ketika melihat terampilnya tangan-tangan nakal laki-laki lain yang mencoba menggerayangi masing-masing teman perempuannya.
"Disini aku baru. Belum banyak teman. Aku sempat berhenti dari dunia malam, tapi kebutuhan kemudian menuntut aku untuk kembali ke jalan ini," kenangmu dengan kepala masih berada tepat di dadaku. Sesaat aku sebenarnya sesak, namun ku biarkan kau bermanja-manja. "Toh setelah ini entah kapan kita akan bertemu lagi," pikirku.
Tiupan angin malam pantai semakin kencang. Sementara semakin dini, kau semakin larut dan jatuh ke pelukan. Kembali ku biarkan ketika kau ingin melayani menghidupkan sebatang rokok. Hisapan rokok itu kau rasakan dalam, setelah kemudian batang rokok itu pun kau berikan padaku. "Kau tipe cewek setia," pujiku. Mendengar ucapan itu kau hanya terkekeh. Entah apa pikiranmu saat itu, menganggap aku polos, atau justru tak mempercayai ucapanku. "Hahahaha... Abang ada-ada aja sih. Masa cewek sepertiku dibilang setia, baru kali ini aku mendengar ungkapan lelaki kepadaku," katanya dengan tawa menggoda.
Tapi apakah kau tau ungkapan aku itu jujur? Ah, tak penting! Yang pasti aku merasa semua manusia itu punya naluri, begitu juga denganmu. Terlepas kemudian kau memilih jalan ini, aku yakin jika ada pekerjaan lebih baik, kau akan lebih memilihnya dibanding digerayangi setiap laki-laki datang, sepertihalnya denganku.
Keringat di lehermu masih lembab. Kau coba untuk menyekanya dengan selembar tisu. Tak berapa lama, kau langsung memberikan permen kepadaku setelah sebelumnya kau rasakan permen itu pada lidah basahmu. "Biar nafas tak bau alkohol Bang," katamu sembari tersenyum. Aku menyambut permen itu untuk memasukkan sendiri butiran putih itu ke mulutku. Tapi segera kau menjauhkan tanganmu dari rengkuhanku. Oh.. kau bermaksud memasukkan permen itu tepat ke lidahku.. hmm.. Lagi-lagi aku memujimu.. "Kau perempuan setia," kataku dalam hati kali ini.
Aku mencoba melirik beberapa temanku yang mulai asyik dengan masing-masing teman wanita yang dipesannya. Aku pun tak kuat menahan kekeh, ketika salah seorang teman yang datang bersamaan denganku tadi berusaha untuk merangkul teman wanitanya. Sesaat kemudian wanita itu menolak, dan temanku tadi pun hanya bisa mengelus dada.. hehe.. Lucu saat itu. Tapi sejurus kemudian perempuan tadi menjatuhkan diri tepat juga di dada temanku. "Hahay..!" teriakku dalam hati. Padahal, teman yang satu ini awalnya cukup anti dengan dunia-dunia seperti ini. Tapi mungkin ketika telah dihadapkan dengan hal-hal menarik, naluri lelaki mana yang tidak tergoda.

***

Semakin malam, bahkan sudah pagi. Jadi ingat lagunya Doel Sumbang. Kalaupun teman wanita di sampingku ini bernama Ema, tentu aku akan menyanyi.. "Geura Balik Silaing Ema.. Hayam jalu geus kongkorongok.." hehe..
Semakin dingin, dan persediaan pun semakin menipis. Bersegera salah seorang temanku tersadar dan mengajak kami pulang. Sebelumnya, ku selipkan beberapa lembar uang Rp 50 ribuan untuk teman kencanku tadi. "Senang bersamamu," ucapku sembari memberikan lembaran rupiah. Kau tampak sumringah dan aku pun kembali terenyuh..
"Semoga kau dapatkan pekerjaan lebih baik," ucapku dalam hati dan meninggalkan dentuman bass, riuh suara genit juga polos wajah 20 tahunmu. Setidaknya, hadirmu kali ini membuktikan kalau malam tak selamanya gelap.
Semakin jauh, wajahmu pun hilang seiring temaram bulan cassanova. (**)

Bengkulu, 18 Januari 2010
*Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan tempat dan kejadian semata-mata hanya kebetulan.

12/08/2008

Kala Senja di Bundaran

TIUPAN angin senja ini temani kebisuanku. Terpaku, tersudut kusendiri menatap rona cakrawala yang semakin memerah. Gontai kurasakan langkah menuju taman kota, senyap, risih bahkan gelap.
Senja ini aku kembali sendiri, sama seperti tadi pagi, aku berjalan sendiri dan merasakan embun di wajahku diantara air mata yg menetes menutupi hawa samar dan buram. Waktu telah menggerogotinya, sejarah kasih kita semakin kandas, terpupus oleh jarak dan detik-detik jarum jam yang kemudian tumbuh menjadi rangkaian bulan dan tahun.
Keputusanku tuk menunggu, kadang membuat suatu keraguan. Ragu akan kasih sayang yang engkau berikan, ragu akan ketulusan cinta yang kan ku dapat. Bahkan ragu pada diriku sendiri.
Walau memang tak kan kulupakan, lembaran-lembaran masa lalu yg dulu selalu setia menjenguki peninduran kita. Akan kuhayati waktu-waktu manis seperti meresapi keindahan matahari yang berwarna indah di suatu pagi. Tak dapat kupungkiri, lekuk wajahmu terlalu banyak menyimpan kasih sayang yang kurasakan tetesannya hingga ke dasar hati. Takkan terlupakan olehku yang selalu setia menyimpan rindu dan penantian pada waktu yang semakin menjadi sepi.
Namun, apakah cukup dengan semua itu?

*****

Kemelut jiwa terus menggerogoti sisa-sisa logika. Lesu ku terduduk di salah satu bangku yang ada di bundaran Arma. Sementara cekikikan bocah bermain bola dan cengkrama pasangan bahagia seakan tak kuhiraukan. Aku semakin asyik, larut dalam lamunan yang sebenarnya aku juga tak mengerti. Sementara, terdengar kicauan burung yang seakan melantunkan lagu rindu diantara bisingnya suara becak motor di Kota ini.
Bundaran Arma, taman kota yang selalu tertata rapi. Tak heran, apabila banyak bocah dan pasangan muda-mudi memilih tempat ini sebagai tongkrongan dikala senja. Seperti juga halnya denganku, aku terkadang betah berlama-lama di sini walaupun hanya sekedar melihat lalu-lalang kendaraan dan menikmati panorama kabut diantara pegunungan bukit barisan. Hanya saja, kedatanganku hanya sendiri. Tak ada teman, apalagi pasangan.
Terkadang aku sempat membayangkan, seandainya kau ada di sini tentunya aku akan lebih betah berlama-lama di bundaran ini. Tentunya juga aku takkan tertegun, terpaku bak seorang bisu. Entahlah..., kapan masa itu kan terjadi. Yang pasti, saat ini kau tak dapat kulihat, hanya penantian dan sebuah potret mesra yang kini masih kusimpan rapi di pelataran tidurku.
''Huh...!'' kembali ku menghela nafas diantara gunjingan teman-teman yang membuatku semakin ragu. Seringkali aku dihadiahi cibiran atas keputusanku tuk setia menanti. Namun, hingga detik ini aku masih tetap utuh pada pendirian dan akan setia menanti kedatanganmu. Kau yang jauh..., memang tidak terlalu jauh. Hanya saja, terbentangnya selat sunda yang memisahkan menjadi satu polemik tersendiri bagiku.
Aku pernah baca, Keabadian hanya ada sesudah mati. Hanya saja, rasanya tak salah kalau aku tetap pada kesetiaan dan janji yang kita rajut sebelum kau melangkahkan kaki ke bandara. Kala itu, kau berjanji kan tetap menjaga keutuhan cerita indah ini. Tapi bagaimana dengan resah ini? resah yang selalu ada disaat ku tak bisa merasakan jauh dari kehidupanmu. Terkadang memang ada rasa untuk selalu dekat dan membagi cerita. Tapi, hanya merdu dan manja suaramu yang dapat kudengar.
Sesaat kuberpikir tuk terus jalani kisah ini. Toh, suatu saat hanya waktu yang bisa menjawab semua ini. Aku yakin, kita mampu melaluinya. Biarkan cinta kan kembali menyatukan kita, biarkan semua berjalan apa adanya dan biarkan semua menjadi sejarah bagi keutuhan cinta kita. Namun, tetap saja itu menjadi suatu keraguan. Ada kalanya perasaan memang bisa mengalahkan logika. Seperti saat ini, aku benar-benar merasakan hampa. Namun, perjalanan hidup kembali menyadarkanku, ketika sesuatu menjadi keputusan-Nya, tak ada alasan apapun yang mampu menghalangi. Terkadang, ingin rasanya aku menjerit sekuatnya, namun apakah ini mampu membuatku kembali yakin?

*****

Senja semakin memerah. Tak berapa lama, kemudian menjadi semakin kelam, kabut di antara bukit barisan pun tak dapat kulihat lagi keindahannya. Sementara bundaran itu pun telah berubah menjadi sepi. Gaung suara Adzan yang kudengar dari Masjid Agung pun membahana. Hanya saja, aku belum mampu mengambil kesimpulan apa-apa. Bak sebuah komputer yang lagi ''ngeheng'' kulangkahkan kaki menuju tepian bundaran. Namun, aku belum bisa tenang, gejolak pun semakin berkecamuk, aku kembali terduduk di tepian bundaran.
Salahkah aku jika mengambil kesimpulan? Sesungguhnya rasa ini tetap utuh, aku pun masih tetap mencintaimu, seperti sebelum kau pergi. Tapi, resah ini telah menjadi tetesan embun yang lenyap terserap pori-pori tanah dalam rentetan musim kemarau yang panjang.
Tak ada lagi yg bisa di jeritkan sedang suaraku telah disekap oleh waktu-waktu yg semakin ganas memangsa usia kita.
Aku sudah lemah menelusuri perjalanan bumi yg seakan tak pernah mengenal dimana ujungnya. Kita telah punah di tengah-tengah takdir yg merambah hidup dan napas.
Hanya ini yang bisa kuputuskan, mengalirkan kisah kita berdua pada sebuah sungai masa lalu. Mungkin lalu lalang sejarah sudah tak bisa lagi menjadi milik kita berdua. Aku tak kuasa menanggung resah, memang takkan mudah bagiku tuk meninggalkan jejak kisah ini. Namun, biarlah ini menjadi suatu kenangan terindah dalam sejarah kisah kita.
Kau dan aku bukan sepasang kekasih yang bahagia seperti dulu...., seperti dulu lagi...!!

Arga Makmur, Maret 2006