7/06/2020
7/02/2020
7/01/2020
7/09/2019
"Yang Mahal itu, Ilmu"
Dunia editing video memang bukan jurusanku. Memang dulu aku sempat jadi jurnalis. Tapi cetak. Bukan elektronik. Bahkan waktu kuliah tak sempat belajar editing video. Cuma fotograpi. Itu pun tak memadai.
Ah, dunia semakin berkembang. Begitu mudah orang-orang yang mengerti perkembangan dunia itu mencari uang dengan teknologi. Aku pernah dengar katanya seorang youtuber yang kerjanya hanya mengedit dan kemudian mengupload video penghasilannya sampai puluhan juta. Bahkan ratusan juta. Bagaimana bisa?
Aku harus bisa! Meski belum bisa menghasilkan uang seperti mereka, tapi setidaknya aku harus bisa editing video meski seadanya. Ini bukan hanya soal ketinggalan zaman atau tidak, tapi juga soal kepuasan bathin ketika mampu mengoperasikan aplikasi editing video.
Sejak itulah saya iseng. Saya download aplikasi editing video. Setelah itu saya buka video lama anak-anakku yang sedang bermain. Aku edit.
Perlu kerja keras. Otak yang tak lagi muda ini tak secepat dulu menangkap. Berhari-hari bahkan sampai subuh aku hanya ada di depan laptop. Perlu waktu cukup untuk memulai sebuah karya. Hasilnya? Untuk seorang pemula, lumayanlah.
Sekarang aku mengerti. Mereka yang berpenghasilan jutaan, puluhan bahkan ratusan juta itu wajar menerimanya. Karena sebenarnya yang membuat mereka berharga adalah ilmu.
Karena menyadari akses informasi dan tutorial menjadi jurus utama bagi pemula di dunia editing video, saya memutuskan untuk membuat channel youtube. Tutorial di channel ini bisa dilihat siapapun.
Untuk melihatnya cukup dengan mengklik link berikut ini: eRDe TV
Sedangkan video anak-anakku yang aku edit aku pisahkan channelnya dan bisa dilihat di sini: H&S Channel Youtube
Yang berminat mengikuti kedua channel youtube di atas, bisa langsung klik linknya. Setelah muncul jendela baru, pastikan anda mengklik tombol subscribe. GRATIS.. ^_^
8/25/2010
Kecil Itu Besar
Dulu, waktu SD kelas IV aku dikenalkan guru kelasku dengan pepatah; Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Waktu itu, aku ingat pepatah ini berlaku bagi kami yang dianjurkan untuk menabung. Saat itu pula, diajarkan tentang pengertian hemat dan kikir. Hmm.. Masa kecil memang menyenangkan. Meski hidup sederhana, tapi setidaknya beban pikiran tak seperti saat ini.
Sekilas masa kecil akan tetap terkenang indah. Karena kita harus sadar betul, tak ada satupun yang tidak berawal dari kecil. *) sambil mikir, ada ga ya yang ga da kecilnya? Hehe.. Kalaupun ada, aku yakin kesannya tak akan natural. Karena semua butuh proses, dan proses butuh waktu. Begitupun dengan alam semesta. Tentu Alquran juga menjelaskan toh, proses penciptaan alam semesta ini.
Awal, proses dan hasil. Ketiga komponen itu saling berkaitan dan sama-sama memiliki ikatan satu sama lain, tak dapat dipisahkan. Jika awalnya baik, didukung dengan prosesnya baik pula, Insya Allah hasilnya juga akan baik. Namun jika awalnya kurang baik, semoga kita termasuk kepada golongan orang-orang yang husnul khotimah. J
Menurutku, hal besar dalam hidup adalah ketika kita bisa mencapai harapan dan cita-cita dengan proses disertai kerja-kerja berat. Jadi ingat ungkapan Proklamator RI, Ir Soekarno di dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” bahwa tidak ada kemenangan paling indah, selain kemenangan setelah dituntaskan dengan kerja-kerja berat.
Jika kita mau menggelitik hati kita lebih dalam, tak ada kerja-kerja berat selain melakukan hal-hal kecil dan memiliki hasil yang kecil juga. Namun karena tadi kita sudah menyamakan persepsi bahwa segala sesuatu harus diawali dengan hal-hal kecil, tentu mengerjakan yang kecil memang merupakan suatu proses yang mesti dilalui.
Seperti pepatah yang kuperoleh dari guru saat aku duduk di bangku SD tadi, kita harus sama-sama meyakini, sesuatu yang kecil jika dikumpulkan akan menjadi besar. Satu hal yang juga mesti kita sadari, proses pengumpulan itu tentu memakan waktu. Untuk itu, kita dituntut istiqomah dan bersabar serta meyakini tak akan ada pekerjaan baik sedikitpun yang tidak ada manfaatnya. Untuk itu, peran ikhlas dalam mengerjakan sesuatu juga mesti ada. Karena jika tak ada keikhlasan, hal kecil sekalipun akan terasa berat. Begitulah kaitannya.
Kesimpulannya, tak ada salahnya kita mengidam-idamkan sesuatu yang besar, tapi prosesnya mesti dilalui dengan sempurna. Karena belum tentu kita termasuk kepada golongan orang-orang yang husnul khotimah. Hehe.. :)
Mari kita mengumpulkan pasir-pasir di pantai dan mari menghitung rintik hujan. Jangan sampai, karena mengharapkan burung yang sedang terbang tinggi, tapi punai di tangan dilepaskan. Bukankah punai juga salah satu nama dan jenis burung?! Hmm.. :)
Wallahu'alam Bishawab.. (**)
Arga Makmur, 25 Agustus 2010
MENIKAH? Ya, Menikah..
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur:32)
"Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya" (HR. Bukhori-Muslim)
Lalu, apa yang membuat kamu ragu untuk menikah Ndri?
“Secara aku juga normal Bang, aku juga kepengen punya istri, punya anak yang lucu dengan senyumnya yang bikin gemes,” begitulah berkali-kali aku memberikan jawaban kepada seorang teman, sekaligus abang bagi kami yang berusia lebih muda.
*) Berpikir, kapan ya aku menikah? Mau donk.. hehe.. (semoga dia membuka hatinya, sehingga hidup ini akan lebih terhayati)
Indahnya Harapan..
BISA dibayangkan betapa suntuknya hidup ketika tak ada harapan. Semuanya terasa hambar, tak ada yang ditunggu dan tak ada pula semangat untuk hidup. Bicara soal harapan pula, bathin kita kerap membayangkan sebuah perjuangan untuk menggapai harapan dimaksud.
Harapan. Sebuah keinginan yang belum bisa digapai. Tentu, untuk menggapai harapan tersebut butuh perjuangan dan waktu.
Mari Teguh, seorang motivator kondang dan diidam-idamkan jutaan ummat pernah bilang, keberhasilan anda bukan diukur dari apa yang anda dapatkan, melainkan seberapa besar perjuangan dan apa yang telah anda lakukan untuk keberhasilan itu sendiri. Sedikit bingung sih, tapi ya begitulah idealnya. Karena hidup ini permainan Allah SWT. Sementara kita hanya menjalani trek yang telah disediakan. Muaranya, ya surga dan neraka. Bukan begitu? J
Balik lagi ah ke harapan.
Tak berlebihan kan jika saya berpendapat, harapan itu adalah motivasi. Dengan harapan, kemudian akan timbul semangat perjuangan. Lalu, bagaimana jika setelah berjuang mati-matian (versi kita) ternyata keinginan tak juga tercapai? Hmm.. Ini problem menurutku.
Kesungguhan memang bukan ibarat angka. Tak bisa ditakar. Kadang kita sudah merasa maksimal, namun ternyata belum. Ada juga kalanya kita merasa biasa saja, tapi sebagian orang berpendapat, kita sudah maksimal. Begitulah penilaian, abstrak. Karena hidup, bukan matematika. Dengan begitu, wajar saja jika ada penilaian berbeda dan tak ada kebenaran hakiki yang bisa kita dapat di dunia. (Lho, kok jadi melebar ke kebenaran? Hehe..)
Sedikit mengupas statemen Mario Teguh sebelumnya, aku menafsirkan yang dimaksud sang motivator adalah hidup adalah ibadah. Jadi, bersungguh-sungguhlah (menurut kita) pada setiap pekerjaan yang kita lakukan, apapun itu. Sebab jika kita sudah bersungguh-sungguh namun hasil tak sesuai dengan harapan, kupikir ada sebuah kepuasan bathin yang kita dapat. Kepuasan arti sebuah perjuangan, dan mengajarkan kepada kita bahwa tidak setiap keinginan yang kita harapkan, dapat terkabul. Jika sudah begini, orang kerap menilai konsep diri seperti ini dikategorikan sebagai kedewasaan. Tapi tak hanya itu, dengan berpikir cerdas dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, konstelasinya bagi ummat Islam ada pada Rukun Iman. Ya, Iman kepada Allah SWT. Bahwa tidak ada kekuatan apapun, selain kekuatan Sang Pencipta. Hmm.. J
Di penghujung tulisan ini, mari kita terus berharap. Teruslah berharap, dan teruslah berjuang. Jika mau jadi orang baik, lakukanlah hal yang baik-baik pula. Jangan karena ada lagu dengan judul Berhenti Berharap, lalu kita benar-benar berhenti. Karena harapan itu indah teman, seperti harapan ketika kita menunggu bedug berbuka puasa. Jika sudah waktunya berbuka, tentu nikmat bukan? Itulah yang disebut dengan Indah pada Saatnya. J
Arga Makmur, 22 Agustus 2010
-
*Rama Diandri Mencoba berlari menuju tepian Menggapai raga di ketinggian Sudahlah.. Kau akan rapuh.. Tak ayal ombak kan menelanmu Tak juga k...
-
Keterangan Foto (dari atas ke bawah) 1. Kamar Bola atau Rumah Biliar zaman Belanda 2. Kondisi Bangunan SD Lebong Tandai sekarang 3. Bak pena...
