*Rama Diandri
Kudengar cerita tentang masa lalu
Anganku menyeruak, mengharu-biru
Kau terasing, menatap sedih dan ragu
Apakah kamu mengingatku?
Akhirnya sampai juga pada penyesalan
Karena ambisi dan ego menjadi lalapan
Dulu kau tak begitu
Mungkin keramaian yang membuatmu beku
Tak sedikit pun kuingin kau terasing
Tak separuh pun riuh mengharapmu terbanting
Tak juga rela melihatmu tergopoh
Terlebih, sesalku mendalam ketika kau roboh
Dulu kuingin kamu tetap disini
Namun apa lacur, nasi sudah menjadi bubur..
8/19/2009
Aku dan Harapanku
BILA malam sudah beranjak mendapati Subuh, kadang aku membayangkan dirimu yang sedang terbaring letih menemaniku. Kutatap wajahmu yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikanmu akan habis.
Sesudahnya, aku juga membayangkan tentang esok hari yang kan kita lalui bersama. Disaat kita sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letihmu barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Disaat seperti itu, aku memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anakku nantinya, seperti kisah dari negeri dongeng. Sementara disaat yang sama aku menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sesudah aku terasa puas memandangimu yang terbaring letih, setelah aku perhatikan gurat-gurat penat di wajahmu, maka aku biarkan kau sejenak untuk meneruskan istirahat. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurmu, kemudian kutahan dengan sehelai selimut. Kan kuhamparkan ke tubuhmu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Sebab kuyakin, tak ada laki-laki mulia selain laki-laki yang memuliakan wanita…
Setangkup harap kemudian kuhatur, semoga kau benar-banar mencintaiku, menyayangiku dengan ikhlas. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Sebab kuyakin, Karena cinta kita ada.. dengan cinta kita bertumbuh dewasa.. untuk suatu persembahan cinta kita bekerja.. dan cita tertinggi kita adalah meraih kecintaan dari Sang Pemilik Cinta..
Terimalah persembahan cinta dariku, untukmu dan semoga, selamanya…
Cinta adalah ketika kamu menerima seluruh kelemahan kekasihmu dan memeluknya sembari berkata, "apapun yang terjadi, aku tetap mencintai kelemahanmu dan selalu ada air mata yang menyertai." (**)
Sesudahnya, aku juga membayangkan tentang esok hari yang kan kita lalui bersama. Disaat kita sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letihmu barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Disaat seperti itu, aku memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anakku nantinya, seperti kisah dari negeri dongeng. Sementara disaat yang sama aku menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sesudah aku terasa puas memandangimu yang terbaring letih, setelah aku perhatikan gurat-gurat penat di wajahmu, maka aku biarkan kau sejenak untuk meneruskan istirahat. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurmu, kemudian kutahan dengan sehelai selimut. Kan kuhamparkan ke tubuhmu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Sebab kuyakin, tak ada laki-laki mulia selain laki-laki yang memuliakan wanita…
Setangkup harap kemudian kuhatur, semoga kau benar-banar mencintaiku, menyayangiku dengan ikhlas. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Sebab kuyakin, Karena cinta kita ada.. dengan cinta kita bertumbuh dewasa.. untuk suatu persembahan cinta kita bekerja.. dan cita tertinggi kita adalah meraih kecintaan dari Sang Pemilik Cinta..
Terimalah persembahan cinta dariku, untukmu dan semoga, selamanya…
Cinta adalah ketika kamu menerima seluruh kelemahan kekasihmu dan memeluknya sembari berkata, "apapun yang terjadi, aku tetap mencintai kelemahanmu dan selalu ada air mata yang menyertai." (**)
Membunuh Sepi
*Rama Diandri
Kalut kemelut seekor perkutut
mencoba terbang, sangkar membalut
riuh lepas sepi pun memagut
semoga tangis tak jadi patut
Bakar saja.., Ludeskan!
Bukankah api tersulut, angin berhembus?
Tapi hujan menyiram badan
menjinakkan bara, dingin terendus..
Sepi ini nyata..
Tapi hujan membuat nyaman
Tak ada lagi bara menyapa..
Sepi dibunuh di rimba hutan
Kalut kemelut seekor perkutut
mencoba terbang, sangkar membalut
riuh lepas sepi pun memagut
semoga tangis tak jadi patut
Bakar saja.., Ludeskan!
Bukankah api tersulut, angin berhembus?
Tapi hujan menyiram badan
menjinakkan bara, dingin terendus..
Sepi ini nyata..
Tapi hujan membuat nyaman
Tak ada lagi bara menyapa..
Sepi dibunuh di rimba hutan
7/05/2009
Tentang Rindu
*Rama Diandri
Ingin kujemput kau dalam butanya pagi
bersama kicau dan rembesan embun
tak juga dedaunan sedikit pun berduri
meniti pesona biduk pun anggun
Tak pelak burung kan terus berkicau
rembes embun perlahan jadi riak
ikan pun ikhlas disantap bangau
dedaunan rindang membentuk arak
Tapi siang begitu kacau
mentari pongah sinar menggunting
kokoh berdiri seakan mencercau
tak peduli daun yang mulai menguning
Ingin kuraih kau sebelum mentari pongah
tapi rapuhku lekang oleh takdir
tertatih berlari tak lagi basah
coba runtuhkan senja bergulir
Kini, hanya rindu di senja baku
berharap kau tak lagi membatu
disengat mentari kau pun kuat
temani aku sepanjang hayat
Argamakmur 3/7/09
Ingin kujemput kau dalam butanya pagi
bersama kicau dan rembesan embun
tak juga dedaunan sedikit pun berduri
meniti pesona biduk pun anggun
Tak pelak burung kan terus berkicau
rembes embun perlahan jadi riak
ikan pun ikhlas disantap bangau
dedaunan rindang membentuk arak
Tapi siang begitu kacau
mentari pongah sinar menggunting
kokoh berdiri seakan mencercau
tak peduli daun yang mulai menguning
Ingin kuraih kau sebelum mentari pongah
tapi rapuhku lekang oleh takdir
tertatih berlari tak lagi basah
coba runtuhkan senja bergulir
Kini, hanya rindu di senja baku
berharap kau tak lagi membatu
disengat mentari kau pun kuat
temani aku sepanjang hayat
Argamakmur 3/7/09
6/23/2009
Munajat

"Dulu Rindu Pernah Bilang, Jika Rindu
Ingatlah Aku dalam Setiap Nafasmu"
Hmm.. Aku menghela nafas saat kembali ingat dengan kata-kata itu. Pun begitu ketika aku sadar bahwa selama ini kesalahan demi kesalahan telah kurangkum dalam penerjemahan rindu, kasih sayang bahkan cinta. Salah? Iya, sebuah kesalahan fatal. Aku telah melakukan kesalahan dalam penerjemahan kasih sayang dan cinta sesama manusia melebihi kepada Sang Khalik. Subhanallah..
Alhamdulillah ya Allah.. Kau hancurkan bangunan kesalahan itu melalui cobaan sekaligus ujian bagiku dalam menjalani hidup. Saat ini, aku mencoba menepi dan bertafakur. Menanti suatu waktu hingga kemudian kasih sayang itu tak lagi salah kuterjemahkan. Kasih sayang yang kau ridhoi.
Sesungguhnya aku sadar, tak ada yang abadi kecuali kasih sayang-Mu.. Selama ini, aku sudah bertindak bodoh. Aku sesat dalam nikmat sesaat. Aku mencoba untuk kembali dan mencoba mengingat-Mu melalui dzikir.. Allahu Akbar.., bermanja-manja dengan Sang Khalik adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku saat ini. Aku ingin rasa ini tetap terjaga ya Allah, sehingga ketika suatu saat itu tiba, kasih sayangku terhadap dia hanya semata-mata karena ridho-Mu.. (**)
6/19/2009
Nyanyian Rindu..
*Rama Diandri
Ada Rindu Penuh Hikmah
Dalam Rinai Senyum, Dia Terpaku..
Melepas Ikhlas dalam Tulus
Menuju Harapan Tak Pernah Pupus
Rindu Itu Diam..
Entah Apa yang Terekam
Diam Bukan Berarti Bungkam..
Rindu Coba Jalani Duka dengan Lapang
Adakah Rindu-rindu Lain?
Rindu Hanya Satu...
Hanya Rindu di Kebun Hikmah
Dia Melaju, Lewati Asa Tak Bertepi
Selamat Malam Rindu...
Ada Rindu Penuh Hikmah
Dalam Rinai Senyum, Dia Terpaku..
Melepas Ikhlas dalam Tulus
Menuju Harapan Tak Pernah Pupus
Rindu Itu Diam..
Entah Apa yang Terekam
Diam Bukan Berarti Bungkam..
Rindu Coba Jalani Duka dengan Lapang
Adakah Rindu-rindu Lain?
Rindu Hanya Satu...
Hanya Rindu di Kebun Hikmah
Dia Melaju, Lewati Asa Tak Bertepi
Selamat Malam Rindu...
Argamakmur 20/6/09
6/15/2009
Dan Malam pun Ikhlas..
*Rama Diandri
Berarak Laju, Air Berliku
Merunut Kisah Berpayung Duka
Hati Memang Payah!
Tak Peduli Ragu Akal pun Datang
Berlalu Dalam Kegelapan
Menanti Cahaya Tak Kunjung Datang
Apakah Pagi Telah Terhenti oleh Malam?
Kurasa malam Begitu Lama dan Menyesakkan..
Biduk Ini Terasa Melesak
Tak Kuasa Membendung, Lalu Tumpah
Kemudian Rinai Perlahan Berganti
Dan Pagi pun Tiba, Seiring Mentari
Aku Lega, Lepas Terkendali
Ternyata Galau Itu Memang Indah...
Berarak Laju, Air Berliku
Merunut Kisah Berpayung Duka
Hati Memang Payah!
Tak Peduli Ragu Akal pun Datang
Berlalu Dalam Kegelapan
Menanti Cahaya Tak Kunjung Datang
Apakah Pagi Telah Terhenti oleh Malam?
Kurasa malam Begitu Lama dan Menyesakkan..
Biduk Ini Terasa Melesak
Tak Kuasa Membendung, Lalu Tumpah
Kemudian Rinai Perlahan Berganti
Dan Pagi pun Tiba, Seiring Mentari
Aku Lega, Lepas Terkendali
Ternyata Galau Itu Memang Indah...
*Arga Makmur 16/06/09
Langganan:
Postingan (Atom)
-
*Rama Diandri Mencoba berlari menuju tepian Menggapai raga di ketinggian Sudahlah.. Kau akan rapuh.. Tak ayal ombak kan menelanmu Tak juga k...
-
Keterangan Foto (dari atas ke bawah) 1. Kamar Bola atau Rumah Biliar zaman Belanda 2. Kondisi Bangunan SD Lebong Tandai sekarang 3. Bak pena...