Kala Senja di Bundaran

TIUPAN angin senja ini temani kebisuanku. Terpaku, tersudut kusendiri menatap rona cakrawala yang semakin memerah. Gontai kurasakan langkah menuju taman kota, senyap, risih bahkan gelap.
Senja ini aku kembali sendiri, sama seperti tadi pagi, aku berjalan sendiri dan merasakan embun di wajahku diantara air mata yg menetes menutupi hawa samar dan buram. Waktu telah menggerogotinya, sejarah kasih kita semakin kandas, terpupus oleh jarak dan detik-detik jarum jam yang kemudian tumbuh menjadi rangkaian bulan dan tahun.
Keputusanku tuk menunggu, kadang membuat suatu keraguan. Ragu akan kasih sayang yang engkau berikan, ragu akan ketulusan cinta yang kan ku dapat. Bahkan ragu pada diriku sendiri.
Walau memang tak kan kulupakan, lembaran-lembaran masa lalu yg dulu selalu setia menjenguki peninduran kita. Akan kuhayati waktu-waktu manis seperti meresapi keindahan matahari yang berwarna indah di suatu pagi. Tak dapat kupungkiri, lekuk wajahmu terlalu banyak menyimpan kasih sayang yang kurasakan tetesannya hingga ke dasar hati. Takkan terlupakan olehku yang selalu setia menyimpan rindu dan penantian pada waktu yang semakin menjadi sepi.
Namun, apakah cukup dengan semua itu?

*****

Kemelut jiwa terus menggerogoti sisa-sisa logika. Lesu ku terduduk di salah satu bangku yang ada di bundaran Arma. Sementara cekikikan bocah bermain bola dan cengkrama pasangan bahagia seakan tak kuhiraukan. Aku semakin asyik, larut dalam lamunan yang sebenarnya aku juga tak mengerti. Sementara, terdengar kicauan burung yang seakan melantunkan lagu rindu diantara bisingnya suara becak motor di Kota ini.
Bundaran Arma, taman kota yang selalu tertata rapi. Tak heran, apabila banyak bocah dan pasangan muda-mudi memilih tempat ini sebagai tongkrongan dikala senja. Seperti juga halnya denganku, aku terkadang betah berlama-lama di sini walaupun hanya sekedar melihat lalu-lalang kendaraan dan menikmati panorama kabut diantara pegunungan bukit barisan. Hanya saja, kedatanganku hanya sendiri. Tak ada teman, apalagi pasangan.
Terkadang aku sempat membayangkan, seandainya kau ada di sini tentunya aku akan lebih betah berlama-lama di bundaran ini. Tentunya juga aku takkan tertegun, terpaku bak seorang bisu. Entahlah..., kapan masa itu kan terjadi. Yang pasti, saat ini kau tak dapat kulihat, hanya penantian dan sebuah potret mesra yang kini masih kusimpan rapi di pelataran tidurku.
''Huh...!'' kembali ku menghela nafas diantara gunjingan teman-teman yang membuatku semakin ragu. Seringkali aku dihadiahi cibiran atas keputusanku tuk setia menanti. Namun, hingga detik ini aku masih tetap utuh pada pendirian dan akan setia menanti kedatanganmu. Kau yang jauh..., memang tidak terlalu jauh. Hanya saja, terbentangnya selat sunda yang memisahkan menjadi satu polemik tersendiri bagiku.
Aku pernah baca, Keabadian hanya ada sesudah mati. Hanya saja, rasanya tak salah kalau aku tetap pada kesetiaan dan janji yang kita rajut sebelum kau melangkahkan kaki ke bandara. Kala itu, kau berjanji kan tetap menjaga keutuhan cerita indah ini. Tapi bagaimana dengan resah ini? resah yang selalu ada disaat ku tak bisa merasakan jauh dari kehidupanmu. Terkadang memang ada rasa untuk selalu dekat dan membagi cerita. Tapi, hanya merdu dan manja suaramu yang dapat kudengar.
Sesaat kuberpikir tuk terus jalani kisah ini. Toh, suatu saat hanya waktu yang bisa menjawab semua ini. Aku yakin, kita mampu melaluinya. Biarkan cinta kan kembali menyatukan kita, biarkan semua berjalan apa adanya dan biarkan semua menjadi sejarah bagi keutuhan cinta kita. Namun, tetap saja itu menjadi suatu keraguan. Ada kalanya perasaan memang bisa mengalahkan logika. Seperti saat ini, aku benar-benar merasakan hampa. Namun, perjalanan hidup kembali menyadarkanku, ketika sesuatu menjadi keputusan-Nya, tak ada alasan apapun yang mampu menghalangi. Terkadang, ingin rasanya aku menjerit sekuatnya, namun apakah ini mampu membuatku kembali yakin?

*****

Senja semakin memerah. Tak berapa lama, kemudian menjadi semakin kelam, kabut di antara bukit barisan pun tak dapat kulihat lagi keindahannya. Sementara bundaran itu pun telah berubah menjadi sepi. Gaung suara Adzan yang kudengar dari Masjid Agung pun membahana. Hanya saja, aku belum mampu mengambil kesimpulan apa-apa. Bak sebuah komputer yang lagi ''ngeheng'' kulangkahkan kaki menuju tepian bundaran. Namun, aku belum bisa tenang, gejolak pun semakin berkecamuk, aku kembali terduduk di tepian bundaran.
Salahkah aku jika mengambil kesimpulan? Sesungguhnya rasa ini tetap utuh, aku pun masih tetap mencintaimu, seperti sebelum kau pergi. Tapi, resah ini telah menjadi tetesan embun yang lenyap terserap pori-pori tanah dalam rentetan musim kemarau yang panjang.
Tak ada lagi yg bisa di jeritkan sedang suaraku telah disekap oleh waktu-waktu yg semakin ganas memangsa usia kita.
Aku sudah lemah menelusuri perjalanan bumi yg seakan tak pernah mengenal dimana ujungnya. Kita telah punah di tengah-tengah takdir yg merambah hidup dan napas.
Hanya ini yang bisa kuputuskan, mengalirkan kisah kita berdua pada sebuah sungai masa lalu. Mungkin lalu lalang sejarah sudah tak bisa lagi menjadi milik kita berdua. Aku tak kuasa menanggung resah, memang takkan mudah bagiku tuk meninggalkan jejak kisah ini. Namun, biarlah ini menjadi suatu kenangan terindah dalam sejarah kisah kita.
Kau dan aku bukan sepasang kekasih yang bahagia seperti dulu...., seperti dulu lagi...!!

Arga Makmur, Maret 2006

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bus Masuk Jurang, 12 Tewas

Aku Ketemu Mantan

TUGAS dan Wewenang MK