8/25/2010

Kecil Itu Besar

Dulu, waktu SD kelas IV aku dikenalkan guru kelasku dengan pepatah; Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Waktu itu, aku ingat pepatah ini berlaku bagi kami yang dianjurkan untuk menabung. Saat itu pula, diajarkan tentang pengertian hemat dan kikir. Hmm.. Masa kecil memang menyenangkan. Meski hidup sederhana, tapi setidaknya beban pikiran tak seperti saat ini.

Sekilas masa kecil akan tetap terkenang indah. Karena kita harus sadar betul, tak ada satupun yang tidak berawal dari kecil. *) sambil mikir, ada ga ya yang ga da kecilnya? Hehe.. Kalaupun ada, aku yakin kesannya tak akan natural. Karena semua butuh proses, dan proses butuh waktu. Begitupun dengan alam semesta. Tentu Alquran juga menjelaskan toh, proses penciptaan alam semesta ini.

Awal, proses dan hasil. Ketiga komponen itu saling berkaitan dan sama-sama memiliki ikatan satu sama lain, tak dapat dipisahkan. Jika awalnya baik, didukung dengan prosesnya baik pula, Insya Allah hasilnya juga akan baik. Namun jika awalnya kurang baik, semoga kita termasuk kepada golongan orang-orang yang husnul khotimah. J

Menurutku, hal besar dalam hidup adalah ketika kita bisa mencapai harapan dan cita-cita dengan proses disertai kerja-kerja berat. Jadi ingat ungkapan Proklamator RI, Ir Soekarno di dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” bahwa tidak ada kemenangan paling indah, selain kemenangan setelah dituntaskan dengan kerja-kerja berat.

Jika kita mau menggelitik hati kita lebih dalam, tak ada kerja-kerja berat selain melakukan hal-hal kecil dan memiliki hasil yang kecil juga. Namun karena tadi kita sudah menyamakan persepsi bahwa segala sesuatu harus diawali dengan hal-hal kecil, tentu mengerjakan yang kecil memang merupakan suatu proses yang mesti dilalui.

Seperti pepatah yang kuperoleh dari guru saat aku duduk di bangku SD tadi, kita harus sama-sama meyakini, sesuatu yang kecil jika dikumpulkan akan menjadi besar. Satu hal yang juga mesti kita sadari, proses pengumpulan itu tentu memakan waktu. Untuk itu, kita dituntut istiqomah dan bersabar serta meyakini tak akan ada pekerjaan baik sedikitpun yang tidak ada manfaatnya. Untuk itu, peran ikhlas dalam mengerjakan sesuatu juga mesti ada. Karena jika tak ada keikhlasan, hal kecil sekalipun akan terasa berat. Begitulah kaitannya.

Kesimpulannya, tak ada salahnya kita mengidam-idamkan sesuatu yang besar, tapi prosesnya mesti dilalui dengan sempurna. Karena belum tentu kita termasuk kepada golongan orang-orang yang husnul khotimah. Hehe.. :)

Mari kita mengumpulkan pasir-pasir di pantai dan mari menghitung rintik hujan. Jangan sampai, karena mengharapkan burung yang sedang terbang tinggi, tapi punai di tangan dilepaskan. Bukankah punai juga salah satu nama dan jenis burung?! Hmm.. :)

Wallahu'alam Bishawab.. (**)

Arga Makmur, 25 Agustus 2010

MENIKAH? Ya, Menikah..

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur:32)

MENIKAH. Sepintas, kata ini sederhana. Harapan setiap mereka yang belum bertemu jodoh, bahkan banyak pula yang sudah menikah bermaksud untuk menikah lagi. Jika dilihat dari kacamata ini, menikah tak lebih kepada sifat manusiawi. Artinya, setiap manusia normal dia berminat dan bercita-cita untuk menikah. Kalaupun saat ini belum, tentu ada alasan-alasan konkrit, sehingga pernikahan belum dapat dia lakukan.
Meski demikian, jangan pula teman-teman menganggap bahwa statemen diatas merupakan suatu alibi bagi saya, dan saya-saya yang lain yang kebetulan masih melajang. Hehe..
Beberapa ayat dalam Alquran mengatur soal menikah. Diantaranya, seperti surat An-Nuur di atas. Dengan demikian, sejatinya menikah bukan hanya bersifat manusiawi. Melainkan suatu keharusan bagi mereka yang dianggap telah mampu untuk melakukannya (jika akan lebih banyak mudharatnya, maka diwajibkan untuk menikah). Pada dalil lain disebutkan, jika merasa belum mampu maka diharuskan bagi kita untuk berpuasa, menahan diri dari kesucian.
"Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya" (HR. Bukhori-Muslim)
Bicara soal kemampuan, tentu tolok ukurnya berbeda-beda. Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga seseorang bisa dikategorikan sebagai orang yang mampu. Hanya saja, setidaknya unsur tersebut harus mewakili soal mental, materi. Singkatnya, siap lahir bathin. Meskipun sebenarnya seperti yang dijelaskan dalam Surat An-Nuur ayat 32 tadi, sebenarnya soal kemampuan juga sudah diatur dan kita wajib percaya bahwa Allah SWT akan membuat kita mampu.
Lalu, apa yang membuat kamu ragu untuk menikah Ndri?
Hmm.. Tak ada ragu sedikitpun. Entah ini hanya alibi, atau justru kebenaran hati, saat ini keinginan untuk menikah sebenarnya sudah terpatri. Apalagi pada usiaku yang keduapuluhenam ini, aku kerap bertemu dan kembali berkomunikasi dengan teman-teman lama yang rata-rata sudah punya momongan. Tapi ada juga lho, yang masih melajang sepertiku. Tak diketahui persis apakah alasannya belum menikah sama denganku atau tidak. :)
Sebelumnya, maaf jika ungkapanku ini salah.
Menikah bagiku tak sesederhana kata yang hanya terdiri dari 7 susunan abjad. Jika dikehendaki-Nya, aku berniat hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidup. Beranjak dari niat inilah, tentu keinginan untuk mencari yang sesuai dengan hati, jelas ada. Kurasa ini manusiawi. Meski kita harus yakin kesempurnaan itu hanya milik Allah, namun setidaknya kesamaan jiwa harus menjadi motivasi dan berkaitan erat dengan keyakinan hati. Inilah problemnya.
Menemukan, tak beda rumitnya dengan mencocokkan. Bertemu, lalu cocok. Itulah idealnya. Butuh waktu memang. Sampai kapan? Pertanyaan ini tak hanya aku yang mempertanyakan. Beberapa teman, bahkan beberapa anggota keluarga juga sering mempertanyakan soal waktu ini. Tapi jujur saja, pertanyaan mereka kadang sulit untuk kujawab. Bagaimana mau memberikan jawaban, sementara aku sendiri tak mengetahui apa jawaban sebenarnya.
“Secara aku juga normal Bang, aku juga kepengen punya istri, punya anak yang lucu dengan senyumnya yang bikin gemes,” begitulah berkali-kali aku memberikan jawaban kepada seorang teman, sekaligus abang bagi kami yang berusia lebih muda.
Jika saat ini kita (bagi yang masih lajang) sudah menemukan ada kecocokan, tentu ada suatu harapan untuk mewujudkan keinginan suci, menikah. Entah itu kapan, namun usaha untuk menuju tujuan bukanlah suatu kesalahan. Sebab aku juga yakin dan berserah, soal waktu biarkan saja Allah SWT yang menentukan. Kalau ditanya secara pribadi, siapa sih yang tidak mau kearah kebaikan? Tentu ingin sesegera mungkin bukan?! Namun lagi-lagi, aku menyerahkan seutuhnya kepada-Mu ya Allah.. Karena hanya pada-Mu aku berserah, meminta dan tiada kekuatan apapun, selain Engkau sang Maha Kuat. (**)
*) Berpikir, kapan ya aku menikah? Mau donk.. hehe.. (semoga dia membuka hatinya, sehingga hidup ini akan lebih terhayati)
Arga Makmur, Jelang Sahur, 24 Agustus 2010

Indahnya Harapan..

BISA dibayangkan betapa suntuknya hidup ketika tak ada harapan. Semuanya terasa hambar, tak ada yang ditunggu dan tak ada pula semangat untuk hidup. Bicara soal harapan pula, bathin kita kerap membayangkan sebuah perjuangan untuk menggapai harapan dimaksud.

Harapan. Sebuah keinginan yang belum bisa digapai. Tentu, untuk menggapai harapan tersebut butuh perjuangan dan waktu.

Mari Teguh, seorang motivator kondang dan diidam-idamkan jutaan ummat pernah bilang, keberhasilan anda bukan diukur dari apa yang anda dapatkan, melainkan seberapa besar perjuangan dan apa yang telah anda lakukan untuk keberhasilan itu sendiri. Sedikit bingung sih, tapi ya begitulah idealnya. Karena hidup ini permainan Allah SWT. Sementara kita hanya menjalani trek yang telah disediakan. Muaranya, ya surga dan neraka. Bukan begitu? J

Balik lagi ah ke harapan.

Tak berlebihan kan jika saya berpendapat, harapan itu adalah motivasi. Dengan harapan, kemudian akan timbul semangat perjuangan. Lalu, bagaimana jika setelah berjuang mati-matian (versi kita) ternyata keinginan tak juga tercapai? Hmm.. Ini problem menurutku.

Kesungguhan memang bukan ibarat angka. Tak bisa ditakar. Kadang kita sudah merasa maksimal, namun ternyata belum. Ada juga kalanya kita merasa biasa saja, tapi sebagian orang berpendapat, kita sudah maksimal. Begitulah penilaian, abstrak. Karena hidup, bukan matematika. Dengan begitu, wajar saja jika ada penilaian berbeda dan tak ada kebenaran hakiki yang bisa kita dapat di dunia. (Lho, kok jadi melebar ke kebenaran? Hehe..)

Sedikit mengupas statemen Mario Teguh sebelumnya, aku menafsirkan yang dimaksud sang motivator adalah hidup adalah ibadah. Jadi, bersungguh-sungguhlah (menurut kita) pada setiap pekerjaan yang kita lakukan, apapun itu. Sebab jika kita sudah bersungguh-sungguh namun hasil tak sesuai dengan harapan, kupikir ada sebuah kepuasan bathin yang kita dapat. Kepuasan arti sebuah perjuangan, dan mengajarkan kepada kita bahwa tidak setiap keinginan yang kita harapkan, dapat terkabul. Jika sudah begini, orang kerap menilai konsep diri seperti ini dikategorikan sebagai kedewasaan. Tapi tak hanya itu, dengan berpikir cerdas dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, konstelasinya bagi ummat Islam ada pada Rukun Iman. Ya, Iman kepada Allah SWT. Bahwa tidak ada kekuatan apapun, selain kekuatan Sang Pencipta. Hmm.. J

Di penghujung tulisan ini, mari kita terus berharap. Teruslah berharap, dan teruslah berjuang. Jika mau jadi orang baik, lakukanlah hal yang baik-baik pula. Jangan karena ada lagu dengan judul Berhenti Berharap, lalu kita benar-benar berhenti. Karena harapan itu indah teman, seperti harapan ketika kita menunggu bedug berbuka puasa. Jika sudah waktunya berbuka, tentu nikmat bukan? Itulah yang disebut dengan Indah pada Saatnya. J

Arga Makmur, 22 Agustus 2010