4/29/2009

Ketika Cinta Bertasbih

Hmm...Dari judulnya aja, dah bisa ditebak ko, cerita yang awalnya novel ini nyaman tuk dibaca. Mulai dari ayat-ayat cinta, sampai ke Ketika Cinta Bertasbih,.. Sampai kini, walaupun novel-novel itu dah lama saya baca, pelajaran dan hikmahnya masih melekat di hati. Bahkan jalan ceritanya juga aku ga lupa..

Berkesan,..Kadang-kadang aku jadi ingin dan seakan-akan meniru gaya kehidupannya si Fahri dan Azam..hehe..ga tau, ini instan. Aku juga ga ngerti, sebegitu berhasilnya seorang penulis seperti Habibburahman El Shirazy tuk memancing dan memainkan peran dalam hatiku. Bahkan, waktu baca novel-novelnya, tak jarang aku jadi tersentuh hingga mengeluarkan air mata.. (Ga cengeng sih, ini murni dan ga dibuat-buat..)

Nah..buat kamu yang juga senang dengan karya-karya besarnya Kang Abi', jangan lupa Juni nanti filmnya Ketika Cinta Bertasbih dah bisa ditonton lho..Dijamin seru! Aku juga dah ga sabar nih...

Nih prolognya...

KETIKA CINTA BERTASBIH
Diangkat dari novel karya Habibburahman El Shirazy. Ketika Cinta Bertasbih terdiri dari 2 seri dan populer di kalangan para pecinta buku tanah air. Hingga kini lebih dari 1 juta eksemplar novel tersebut laku terjual. 
Sinemart Pictures jatuh hati untuk memfilmkannya dalam versi utuh. Yakni dengan mengambil lokasi asli seperti yang tertulis dalam setting novelnya, mencari pemain yang memiliki karakter tak jauh dari tokoh dalam novelnya melalui proses audisi, dan melamar Chaerul Umam untuk kembali menyutradarai film setelah selama 11 tahun vacuum dari kiprahnya sebagai sutradara.
Ketika Cinta Bertasbih berfokus pada perjalanan tokoh Azzam (M. Cholidi Asadil Alam), seorang mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir. Kuliahnya tertunda selama 9 tahun setelah ayahnya meninggal dunia, sehingga demi menghidupi dirinya dan keluarganya di Solo Azzam berdagang bakso dan tempe di Kairo-Mesir. Namun dari pekerjaannya itulah, ia menjadi terkenal di kalangan KBRI di Kairo, dan mempertemukannya dengan Eliana (Alice Norin), gadis cantik-modern, putri Dubes RI di Mesir.
Perjalanan hidup dan cinta Azzam yang berliku tidak sekedar memberikan pencerahan jiwa namun mengajak penonton untuk lebih mendalami rahasia Illahi dan memaknai cinta. Kehadiran Anna (Oki Setiana), seorang wanita Islami yang menggoda hati Azzam menjadi unsur yang mengikat keduanya dalam misteri cinta yang dikemas dalam sudut pandang yang sangat berbeda dari film-film drama romantis pada umumnya. Peran adiknya bernama Husna (Meyda Sefira), serta Furqan (Andi Arsyil)-teman kuliahnya yang juga berasal dari Indonesia dan terinfeksi AIDS merangkum perjalanan hidup Azzam menjadi sebuah cerita yang sangat bernilai.
Film ini didukung oleh belasan artis senior papan atas, seperti Deddy Mizwar, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Ninik L Karim, Nungki Kusumastuti, bahkan sastrawan-Taufik Ismail pun muncul sebagai cameo. Ilustrasi musik dan soundtrack ditangani oleh Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Krisdayanti pun tampil sebagai salah satu pengisi album soundtrack film Ketika Cinta Bertasbih.
Seluruh setting dalam novel dihidupkan dengan pengambilan gambar dari lokasi sebenarnya di Kairo-Mesir. Termasuk KBRI di Mesir, Sungai Nil, bahkan Universitas Al Azhar yang selama ini tidak memperbolehkan film asing melakukan syuting di lokasi tersebut. Separuh mahasiswa Indonesia asli yang menimba ilmu di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir juga terlibat dalam proses pembuatannya. (**)

4/23/2009

"Sisi Gelap"

"Sesungguhnya suatu ketika kita bisa sakit, bisa jatuh bangkrut, bisa juga 'tergelincir' melakukan khilaf, bisa juga menangis, bisa juga punya segudang masalah, bisa juga punya hal-hal yang bahkan lebih buruk dari yang kita alami dan kita miliki"

SISI ini adalah sisi tergelap milik seseorang! Persis seperti benda yang ditimpa sinar, selalu ada bayangan berwarna gelap. Sudah menjadi hukum alam, sunnatullah. Sisi yang membuat seseorang sejatinya menjadi utuh sebagai manusia. Ketidaksempurnaan! Namun karena 'gelap' dia memang tak terlihat oleh kita. Kadang-kadang tak berhasil kita baca karena kita memang selalu mencondongkan diri pada sisi 'terang' yang menyilaukan dari orang tersebut...

Benar sekali! Setiap orang memang punya sisi gelap, kekurangan dan kekhilafan. Secara umum, kita semua mengetahuinya, menganggap hal tersebut wajar, sehingga saat ada orang lain yang sedang masuk dalam kegelapan kita bisa (berusaha) memaklumi. Tapi keadaan menjadi sulit ketika yang tergelincir ke kegelapan itu adalah orang yang kita kagumi, orang yang kita idolakan. Sulit sekali memakluminya!

Saat kita mengidolakan seseorang atas apa yang dimiliki dan dilakukannya, tanpa sadar kita jadi menaruh banyak harapan, bahkan tuntutan terhadap idola kita itu. Karena kelebihan dan ketauladanan yang sang idola miliki, kita seakan tak ingin melihat adanya kekurangan dari diri idola kita itu. Namun kadang hal itu tak dapat dielakkan. Manusia tetaplah manusia, yang ada cacat dan celanya. Dan saat kekurangan itu muncul, kekecewaan yang besar dan rasa tak terima muncul pula di hati para penggemar.

Seorang suami yang selama ini dinilai sangat mencintai istrinya (seharusnya) tidak mungkin berpoligami. Seorang anak yang dikenal pintar dan sopan (seharusnya) tak mungkin menyiksa ibunya. Seorang guru, yang (seharusnya) digugu dan ditiru, tidak seharusnya membocorkan soal ujian kepada muridnya.
Seorang pemuka masyarakat, yang berpendidikan tinggi dan terkenal baik budi, (seharusnya) tak mungkin selingkuh dengan tetangganya. Dan masih banyak seharusnya-seharusnya yang lain. Tapi ternyata yang "seharusnya tidak mungkin" itu banyak yang terjadi.Aku jadi teringat kata-kata seorang tante kepada kami para keponakannya "Kalau punya suami atau pacar, jangan diserahkan cintanya 100%, 75% saja sudah cukup, yang 25% disimpan untuk jaga-jaga kalau terjadi hal yang buruk."

Aku pikir betul juga, perlu ada cadangan, supaya nanti kalau ada kekecewaan tidak jatuh terlalu sakit. Dan ini berlaku tak hanya dalam hubungan dengan kekasih saja, tapi juga dalam pergaulan lain yang lebih luas. Termasuk saat kita mengidolakan seseorang. Jangan menilai terlalu tinggi, jangan berharap dan menuntut terlalu banyak, kalau tidak ingin menuai kekecewaan yang terlalu besar. (**)

4/10/2009

Pemilu, Pemilu, pemilu...

Wadduh...Sibuk rek...Bener2 sibuk...

Bingung?

Kebingungan tersebut sangat beralasan. Sebab pemilu kali ini jauh berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Bahkan ini kali pertama perubahan tatacara pemilu di Indonesia yang selama ini dikenal dengan coblos atau melobangi lambang partai dan, nama atau foto calon. 
Pemilu sekarang, tidak lagi menggunakan cara klasik tersebut. Sistemnya tetap saja, namun ada tatacara yang sedikit dimodifikasi, yakni dari cara mencoblos ke mencontreng, atau mencentang, atau conteng.
Bagi orang tua yang kebetulan tidak bisa baca tulis, cara yang sekarang betul-betul rumit bagi mereka. Kerumitan itu ditambah lagi dengan sosiasisasi yang minim dari penyelenggara pemilu maupun pihak-pihak yang berkompeten dengan pemilu.
Sosialisasi itu penting. Terutama untuk menekan kesalahan sehingga suara menjadi rusak atau tidak sah. Dengan cara mencoblos saja, banyak suara yang rusak dan dianggap tidak sah. Ada yang salah coblos, coblos ganda dan lain-lain. 
Dengan mencontreng yang rumit sekarang, diprediksi suara yang tidak sah atau rusak persentasenya akan semakin meningkat. Kondisi itu diperparah lagi dengan sosialisasi yang minim tadi.
Penyelenggara pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Sehingga waktu mereka habis tersita untuk mengenahkan persoalan internal maupun eksternal.
Internal menyangkut personel yang tidak siap bahkan belum belum dilantik hingga pada persoalan SDM yang pas-pasan. Eksternal, mulai dari persoalan parpol yang begitu banyak sebagai kontestan pemilu hingga pada persoalan klasik, yakni masalah dana yang selalu menjadi sumber ketegangan mereka akhir-akhir ini.
Demikian juga dengan Panwaslu. Selain dibebani masalah internal dan eksternal tadi, kini mereka justru sibuk mengurus caleg yang sudah gencar melakukan sosialisasi kepada pemilih atau masyarakat luas. Harusnya, Panwaslu berterima kasih kepada para caleg secara mandiri dapat melakukan sosialisasi baik lewat iklan, spanduk, bahilo maupun pamflet-pamflet. 
Tapi di lapangan, mereka justru sibuk mendikte para caleg kalau-kalau melakukan pelanggaran kampanye. Sibuk menertibkan baliho caleg yang terpasang di tempat umum. Mestinya dengan kondisi mereka yang terbatas dalam melakukan sosialisasi, Panwaslu cukup menertibkan baliho caleg yang dipasang dan membahayakan penguna jalan atau yang tumbang saja. Sebab di baliho itu sudah jelas sosialisasi bagaimana cara mencontreng yang benar. 
Kompleksnya persoalan menjelang pemilu ini, besar kemungkinan kualitas pemilu akan rendah. Reformasi yang dicita-citakan bisa merubah keadaan menjadi lebih baik bakal tidak terjadi. Sebab masyarakat dengan kondisi yang serba gelap karena tak ada sosialiasi pemilu, akan tetap menggunakan hak pilihnya hanya mendengar kata orang, sementara mereka sendiri tak mengerti bagaimana supaya bisa memilih wakil yang betul-betul mereka percaya. 
Kalau begini jadinya, maka masyarakat terutama yang tidak bisa baca tulis besar kemungkinan akan kehilangan suaranya, selain salah cara memilihnya, mungkin surat suara rusak. Nah dengan waktu yang tersisa ini, mari semua stakeholder melakukan sosialisasi sesuai kapasitasnya. Sebab kita ingin pemilu berkualiatas. Pemilu berkualitas menghasilkan wakil yang berkualitas pula. Semoga. (**)

4/03/2009

Galleri Radar Utara


















Kembali ke masa kecil memang mengasyikan. Main bola, hujan-hujanan bahkan main lumpur. Asyik memang! hehe...
inilah segelintir potret masa kecil kurang bahagia...

4/02/2009

Kutipan

"Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu. Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna. Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum. Sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang,"

Kecil Itu Besar

Dulu, waktu SD kelas IV aku dikenalkan guru kelasku dengan pepatah; Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Waktu itu, aku ingat pepa...