Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Kecil Itu Besar

Dulu, waktu SD kelas IV aku dikenalkan guru kelasku dengan pepatah; Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Waktu itu, aku ingat pepatah ini berlaku bagi kami yang dianjurkan untuk menabung. Saat itu pula, diajarkan tentang pengertian hemat dan kikir. Hmm.. Masa kecil memang menyenangkan. Meski hidup sederhana, tapi setidaknya beban pikiran tak seperti saat ini.Sekilas masa kecil akan tetap terkenang indah. Karena kita harus sadar betul, tak ada satupun yang tidak berawal dari kecil. *) sambil mikir, ada ga ya yang ga da kecilnya? Hehe.. Kalaupun ada, aku yakin kesannya tak akan natural. Karena semua butuh proses, dan proses butuh waktu. Begitupun dengan alam semesta. Tentu Alquran juga menjelaskan toh, proses penciptaan alam semesta ini.Awal, proses dan hasil. Ketiga komponen itu saling berkaitan dan sama-sama memiliki ikatan satu sama lain, tak dapat dipisahkan. Jika awalnya baik, didukung dengan prosesnya baik pula, Insya Allah hasilnya juga akan baik. Namun jika awalnya kur…

MENIKAH? Ya, Menikah..

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur:32)
MENIKAH. Sepintas, kata ini sederhana. Harapan setiap mereka yang belum bertemu jodoh, bahkan banyak pula yang sudah menikah bermaksud untuk menikah lagi. Jika dilihat dari kacamata ini, menikah tak lebih kepada sifat manusiawi. Artinya, setiap manusia normal dia berminat dan bercita-cita untuk menikah. Kalaupun saat ini belum, tentu ada alasan-alasan konkrit, sehingga pernikahan belum dapat dia lakukan. Meski demikian, jangan pula teman-teman menganggap bahwa statemen diatas merupakan suatu alibi bagi saya, dan saya-saya yang lain yang kebetulan masih melajang. Hehe.. Beberapa ayat dalam Alquran mengatur soal menikah. Diantaranya, seperti surat An-Nuur di atas. Dengan demikian, s…

Indahnya Harapan..

BISA dibayangkan betapa suntuknya hidup ketika tak ada harapan. Semuanya terasa hambar, tak ada yang ditunggu dan tak ada pula semangat untuk hidup. Bicara soal harapan pula, bathin kita kerap membayangkan sebuah perjuangan untuk menggapai harapan dimaksud.Harapan. Sebuah keinginan yang belum bisa digapai. Tentu, untuk menggapai harapan tersebut butuh perjuangan dan waktu. Mari Teguh, seorang motivator kondang dan diidam-idamkan jutaan ummat pernah bilang, keberhasilan anda bukan diukur dari apa yang anda dapatkan, melainkan seberapa besar perjuangan dan apa yang telah anda lakukan untuk keberhasilan itu sendiri. Sedikit bingung sih, tapi ya begitulah idealnya. Karena hidup ini permainan Allah SWT. Sementara kita hanya menjalani trek yang telah disediakan. Muaranya, ya surga dan neraka. Bukan begitu? JBalik lagi ah ke harapan. Tak berlebihan kan jika saya berpendapat, harapan itu adalah motivasi. Dengan harapan, kemudian akan timbul semangat perjuangan. Lalu, bagaimana jika setelah be…

Indah Tak Terperi

Alhamdulillah, hari ini hari ke-13 bagi kita ummat Islam berpuasa. Menahan dari segala hawa nafsu yang biasa kita lakukan di bulan-bulan lain, selain Ramadhan. Bersyukur juga, kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati damainya Ramadhan tahun ini. Padahal, tak ada satu garansi apapun yang kita dapatkan untuk tetap bisa menikmatinya. Inilah salah satu kemurahan Allah SWT. Tidak seperti perusahaan-perusahaan jasa yang kerap memberikan garansi dalam limit waktu tertentu sebagai iming-iming dan jualan iklan.Namun apakah pernah terpikir, bagaimana jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita? Karena rahasia itu tidak ada yang tahu teman. Tak satupun yang mengetahuinya. Namun demikian, semuanya telah tersusun dan terprogram protect di server lauhul mahfuz. Mari kita membayangkan, Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Sebab bisa jadi, kita tak bisa lagi menikmati indahnya Ramadhan tahun depan. Bahkan siapa tahu, ternyata hari ini adalah hari terakhir kita …

Titik Nadir

Ya, titik nadir. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan sisi tergelap dari perjalanan hidup seseorang. Titik nadir kerap juga diartikan dengan bagian dari kepingan-kepingan sepi dan keterpurukan. Begitulah titik nadir dalam konteks perasaan.
Manusia memang hanya bisa berencana. Berusaha diiringi doa dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Khalik, pemilik semesta alam. Jika kita sedang berada pada titik nadir, sabar dan ikhlas merupakan kunci dan jurus pamungkas. Klasik memang. Namun apakah kita pernah berpikir, jika tidak sedang berada di titik ini terkadang sabar dan ikhlas hanya menjadi dua kata yang tak begitu bermakna. Jangankan hanya untuk menelaah lebih jauh maknanya, terkadang mengingat Allah saja kita bermalas-malasan. Naudzubillah summa naudzu billahi minzalik.Ya, inilah cara Allah SWT mengingatkan hambanya untuk tetap berada dalam keimanan. Bersyukurlah bagi kita yang diberikan peringatan atas kejadian yang tak kita kehendaki. Karena dengan cara ini, Allah ingin…