MENIKAH? Ya, Menikah..

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur:32)

MENIKAH. Sepintas, kata ini sederhana. Harapan setiap mereka yang belum bertemu jodoh, bahkan banyak pula yang sudah menikah bermaksud untuk menikah lagi. Jika dilihat dari kacamata ini, menikah tak lebih kepada sifat manusiawi. Artinya, setiap manusia normal dia berminat dan bercita-cita untuk menikah. Kalaupun saat ini belum, tentu ada alasan-alasan konkrit, sehingga pernikahan belum dapat dia lakukan.
Meski demikian, jangan pula teman-teman menganggap bahwa statemen diatas merupakan suatu alibi bagi saya, dan saya-saya yang lain yang kebetulan masih melajang. Hehe..
Beberapa ayat dalam Alquran mengatur soal menikah. Diantaranya, seperti surat An-Nuur di atas. Dengan demikian, sejatinya menikah bukan hanya bersifat manusiawi. Melainkan suatu keharusan bagi mereka yang dianggap telah mampu untuk melakukannya (jika akan lebih banyak mudharatnya, maka diwajibkan untuk menikah). Pada dalil lain disebutkan, jika merasa belum mampu maka diharuskan bagi kita untuk berpuasa, menahan diri dari kesucian.
"Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya" (HR. Bukhori-Muslim)
Bicara soal kemampuan, tentu tolok ukurnya berbeda-beda. Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga seseorang bisa dikategorikan sebagai orang yang mampu. Hanya saja, setidaknya unsur tersebut harus mewakili soal mental, materi. Singkatnya, siap lahir bathin. Meskipun sebenarnya seperti yang dijelaskan dalam Surat An-Nuur ayat 32 tadi, sebenarnya soal kemampuan juga sudah diatur dan kita wajib percaya bahwa Allah SWT akan membuat kita mampu.
Lalu, apa yang membuat kamu ragu untuk menikah Ndri?
Hmm.. Tak ada ragu sedikitpun. Entah ini hanya alibi, atau justru kebenaran hati, saat ini keinginan untuk menikah sebenarnya sudah terpatri. Apalagi pada usiaku yang keduapuluhenam ini, aku kerap bertemu dan kembali berkomunikasi dengan teman-teman lama yang rata-rata sudah punya momongan. Tapi ada juga lho, yang masih melajang sepertiku. Tak diketahui persis apakah alasannya belum menikah sama denganku atau tidak. :)
Sebelumnya, maaf jika ungkapanku ini salah.
Menikah bagiku tak sesederhana kata yang hanya terdiri dari 7 susunan abjad. Jika dikehendaki-Nya, aku berniat hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidup. Beranjak dari niat inilah, tentu keinginan untuk mencari yang sesuai dengan hati, jelas ada. Kurasa ini manusiawi. Meski kita harus yakin kesempurnaan itu hanya milik Allah, namun setidaknya kesamaan jiwa harus menjadi motivasi dan berkaitan erat dengan keyakinan hati. Inilah problemnya.
Menemukan, tak beda rumitnya dengan mencocokkan. Bertemu, lalu cocok. Itulah idealnya. Butuh waktu memang. Sampai kapan? Pertanyaan ini tak hanya aku yang mempertanyakan. Beberapa teman, bahkan beberapa anggota keluarga juga sering mempertanyakan soal waktu ini. Tapi jujur saja, pertanyaan mereka kadang sulit untuk kujawab. Bagaimana mau memberikan jawaban, sementara aku sendiri tak mengetahui apa jawaban sebenarnya.
“Secara aku juga normal Bang, aku juga kepengen punya istri, punya anak yang lucu dengan senyumnya yang bikin gemes,” begitulah berkali-kali aku memberikan jawaban kepada seorang teman, sekaligus abang bagi kami yang berusia lebih muda.
Jika saat ini kita (bagi yang masih lajang) sudah menemukan ada kecocokan, tentu ada suatu harapan untuk mewujudkan keinginan suci, menikah. Entah itu kapan, namun usaha untuk menuju tujuan bukanlah suatu kesalahan. Sebab aku juga yakin dan berserah, soal waktu biarkan saja Allah SWT yang menentukan. Kalau ditanya secara pribadi, siapa sih yang tidak mau kearah kebaikan? Tentu ingin sesegera mungkin bukan?! Namun lagi-lagi, aku menyerahkan seutuhnya kepada-Mu ya Allah.. Karena hanya pada-Mu aku berserah, meminta dan tiada kekuatan apapun, selain Engkau sang Maha Kuat. (**)
*) Berpikir, kapan ya aku menikah? Mau donk.. hehe.. (semoga dia membuka hatinya, sehingga hidup ini akan lebih terhayati)
Arga Makmur, Jelang Sahur, 24 Agustus 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bus Masuk Jurang, 12 Tewas

Aku Ketemu Mantan

TUGAS dan Wewenang MK