Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2009

Sesalku...

*Rama Diandri

Kudengar cerita tentang masa lalu
Anganku menyeruak, mengharu-biru
Kau terasing, menatap sedih dan ragu
Apakah kamu mengingatku?

Akhirnya sampai juga pada penyesalan
Karena ambisi dan ego menjadi lalapan
Dulu kau tak begitu
Mungkin keramaian yang membuatmu beku

Tak sedikit pun kuingin kau terasing
Tak separuh pun riuh mengharapmu terbanting
Tak juga rela melihatmu tergopoh
Terlebih, sesalku mendalam ketika kau roboh

Dulu kuingin kamu tetap disini
Namun apa lacur, nasi sudah menjadi bubur..

Aku dan Harapanku

BILA malam sudah beranjak mendapati Subuh, kadang aku membayangkan dirimu yang sedang terbaring letih menemaniku. Kutatap wajahmu yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikanmu akan habis.
Sesudahnya, aku juga membayangkan tentang esok hari yang kan kita lalui bersama. Disaat kita sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letihmu barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Disaat seperti itu, aku memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anakku nantinya, seperti kisah dari negeri dongeng. Sementara disaat yang sama aku menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai k…

Membunuh Sepi

*Rama Diandri

Kalut kemelut seekor perkutut
mencoba terbang, sangkar membalut
riuh lepas sepi pun memagut
semoga tangis tak jadi patut

Bakar saja.., Ludeskan!
Bukankah api tersulut, angin berhembus?
Tapi hujan menyiram badan
menjinakkan bara, dingin terendus..

Sepi ini nyata..
Tapi hujan membuat nyaman
Tak ada lagi bara menyapa..
Sepi dibunuh di rimba hutan