Dulu Diabaikan, Kini Ibarat Anak Manja

HINGGA kemarin, perkantoran setingkat kecamatan milik Lebong masih terus beroperasi di wilayah perbatasan Bengkulu Utara (BU) - Lebong. Kendati belum lama ini sempat terjadi bentrok, namun kondisi itu tampaknya mulai mendingin setelah kubu BU menarik massanya, sementara kubu Lebong tetap bertahan dengan fasilitas yang telah mereka buat. Bahkan di samping Kantor PPK Padang Bano, terdapat dapur umum yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan massa Lebong. Apa yang menyebabkan sebagian masyarakat di wilayah perbatasan itu berkeinginan untuk bergabung ke Lebong dan bagaimana pula kondisi masyarakat di wilayah konflik itu saat ini?Berikut laporannya;

=RAMA DIANDRI, Giri Mulya-Padang Bano=

TERLEPAS dari kepentingan politik yang sebenarnya mewarnai konflik tapal batas ini, namun sesungguhnya kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan BU-Lebong tak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Namun sedikit yang agak membedakan, kalau sebelumnya belum terdapat perkantoran setingkat kecamatan milik Lebong, saat ini bangunan tersebut sudah ada. Seperti Kantor Camat Padang Bano (walau masih ngontrak, red), Kantor Desa yang jauh lebih bagus dari Kantor Desa Rena Jaya serta Kantor PPK Padang Bano juga telah beroperasi dan sudah menjalankan aktivitas layaknya sebuah kantor yang tak bermasalah.Kades Padang Bano, Bustamil yang mengaku sudah puluhan tahun tinggal di wilayah perbatasan tersebut ketika ditemui di kediamannya mengungkapkan, sebelum ada pemekaran Kabupaten Lebong dari wilayah Rejang Lebong, daerah yang mereka tempati nyaris dan bahkan memang tak ada perhatian dari pemerintah. "Jangankan sumbangan atau bantuan pemerintah, fasilitas umum pun kami tidak bisa merasakannya," ujar Bustamil. Bahkan dia mengaku sudah dua kali menjadi Pjs Kades Rena Jaya (versi BU, red), namun desa tersebut tak kunjung didefenitifkan. "Saat menjabat sebagai Pjs Kades, tak ada satu pun sumbangan dan fasilitas umum dari pemerintah yang bisa kami manfaatkan. Bagaimana mau memanfaatkan kalau fasilitas itu tak ada," tandasnya.Untuk mengurangi beban masyarakat di wilayah perbatasan itulah, lanjut Bustamil, dia dan beberapa tokoh masyarakat lain menggalang dana swadaya. Dana yang terkumpul itu kemudian dibuat sebuah pasar tradisional yang sudah bertahun-tahun dijadikan masyarakat untuk melakukan aktivitas perekonomian. Selain itu, beberapa fasilitas desa seperti Kantor Desa yang dijadikan untuk berkumpul dengan masyarakat bahkan fasilitas agama seperti masjid sekalipun mereka bangun dengan dana swadaya. "Jadi kami tidak bisa menikmati bagaimana surga dunia pada saat itu. Saya terang-terangan saja, terlepas saya sekarang menjadi Kades Padang Bano atau tidak, namun saat itu tak ada bantuan dan fasilitas apapun yang kami terima dari pemerintah," ungkap Bustamil.Kondisi ini kemudian berubah setelah adanya pemekaran kabupaten pada tahun 2003. Awalnya saling klaim wilayah perbatasan itu antara Lebong dan BU masih belum terasa. Namun diakui Bustamil, isu saling klaim tersebut memanas selang beberapa bulan sebelum Pemilu legislatif digelar. Hanya saja, dia mengaku tak bisa memastikan apakah isu ini santer dengan kepentingan politik atau tidak. "Maaf ngomong, kami masyarakat kecil ini kurang begitu paham tentang politik. Namun memang, selama ini walaupun tak diperhatikan biasanya menjelang Pemilu banyak para pejabat yang mendatangi kami untuk meminta dukungan suara," ungkapnya.Setelah pemekaran kabupaten rampung, perlahan kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan ini mulai membaik. Bahkan Pemkab BU yang tadinya masih menjadikan Rena Jaya sebagai desa persiapan kemudian langsung mendefenitifkan desa tersebut. Tak terkecuali bagi Lebong, menjelang Pemilu legislatif beberapa bulan lalu, Lebong kemudian memekarkan Padang Bano yang tadinya masih termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Lebong Atas menjadi Kecamatan Padang Bano. "Tak berapa lama setelah itu, isu konflik tapal batas kemudian kembali menghangat. Puncaknya, ketika Lebong mendirikan Kantor Camat, PPK dan Kantor Desa di wilayah yang diakui BU sebagai bagian dari Kecamatan Giri Mulya," jelasnya. Lalu apa imbas yang dirasakan masyarakat setelah itu?Diakui Bustamil, selaku tokoh masyarakat di wilayah perbatasan tersebut dia juga mengkhawatirkan akan terjadi pertumpahan darah jika konflik tersebut tak segera diselesaikan. Namun siapa sangka, ternyata saling klaim antara BU dan Lebong terkait wilayah tersebut juga berimbas positif bagi masyarakat. Soalnya, kalau sebelumnya warga tak mendapatkan bantuan atau fasilitas umum, namun dengan kondisi sekarang masyarakat mendapatkan hal itu dari dua kabupaten sekaligus. "Raskin kami dapatkan double. Bahkan selain ada Kantor Desa Rena Jaya, ada pula perkantoran Padang Bano. Belum lagi kalau misalnya ada bantuan bibit dan lain sebagainya," terang Bustamil. Diakui Bustamil, kondisi sebenarnya masyarakat saat ini bingung. Bahkan perpecahan dan hidup berkotak-kotak saat ini sudah mulai terasa. Soalnya, tak semua masyarakat menginginkan gabung ke wilayah Lebong dan begitu juga sebaliknya. "Tapi saya menilai ini sesuatu yang lumrah. Anak saja bisa berbeda pendapat dengan kedua orang tuanya," tandas Bustamil. (**)

Komentar

Wong Jowo mengatakan…
Salam kenal nich mas !Blog walking !! :)
Gw baru saja mosting artikel baru,mas!
Gw minta komentarnya,kritik atau saran jg gapapa !
Karena komentar anda berarti banget buat gw !
Blog aku di http://pelajaran-blog.blogspot.com/
Mau tuker link jg gapapa !
Makasih ,salam Sukses !
Maaf ya klo yang punya bukan mas-mas,he..he..

Postingan populer dari blog ini

Bus Masuk Jurang, 12 Tewas

Aku Ketemu Mantan

TUGAS dan Wewenang MK